Menurut isi Babad Lombok, kerajaan
tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq [Sasak: lampau],
namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada
di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara
Indera. Kerajaan Suwung kemudian mengalami kemunduran dan muncullah Kerajaan
Lombok. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain
Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton, Selaparang dll.
Di antara kerajaan-kerajaan tersebut,
yang paling maju pada zaman tersebut dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok
yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang ini; sebuah teluk yang sangat indah
dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini membuat banyak pedagang
dari Palembang, Banten, Gersik, dan Sulawesi menyiggahinya. Kemudian pada zaman
kekuasaan Prabu Rangkesari, pusat kerajaan Lombok dipindahkan ke Desa
Selaparang atas usul Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini
dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah
diserang oleh musuh dibandingkan posisi sebelumnya.
Dengan demikian, dapat disimpulakn
bahawa kata “Lombok” diambil dari nama kerajaan tersebut. Dalam bahasa Sasak,
secara leksikal kata “Lombok” berarti “lurus” atau “jujur”. Dalam kehidupan
sehari-hari atau secara kentekstual kata “Lombok” dapat berarti ketulusan dan
kejujuran dalam segala tingkah laku dan menghindarkan diri dari perbuatan yang
merugikan orang lain.
Asal kata “Sasak”
Menurut Rulof Goris, pada abad V hingga abad VI terjadi gelombang migrasi dari Pulau Jawa ke Bali dan Lombok menyusul runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga. Alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran ke Lombok disebut sak-sak [rakit bambu]. Berdasarkan kata “sak-sak” itu lah,menurut Goris, mungkin kata “Sasak” berasal.
Namun demikian, A Teeuw, sastrawan Indonesia asal Belanda menduga kata sasak muncul dari kebiasaan masyarakat Lombok masa itu yang mengenakan ikat kepala berbahan tembasak [kain putih]. Bisa jadi sasak itu diambil dari suku kata terakhir tembasak yaitu “sak” yang mengalami proses pengulangan lalu jadi “Sasak”.
“Sak-sak” dalam bahasa Sasak secara leksikal berarti “apa pun” dan secara kontekstual dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang membaur dan berkembang bersama menjadi satu adalah identitas milik bersama. Oleh karena itu, budaya Sasak Lombok lahir dari berbagai budaya multi etnis yang mendiami pulau ini seperti Jawa, Banjar, Bugis, Melayu, dll.
Budaya
Kedekatan budaya Bali dan Lombok memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedua pulau bertetangga ini. Diawali dengan masuknya pengaruh paham Syiwa-Buddha dari Pulau Jawa yang dibawa para migran dari kerajaan-kerajaan Jawa sekitar abad V dan VI M sampai infiltrasi kerajaan hindu Majapahit yang mengenalkan ajaran Hindu-Buddha ke penjuru timur wilayah Nusantara pada abad VII M, termasuk ke Bali dan Lombok.
Selain pengaruh budaya dari barat [Bali dan Jawa / majapahit] kebudayaan Lombok dipengaruhi juga oleh budaya dari timur yaitu budaya Kerajaan Goa. Namun demikian, pengaruh kebudayaan dari barat ini lah yang lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini. Pakaian tradisional seperti ikat kepala, misalnya, dalam adat Sasak disebut sapuk [pria] sama dengan udeng dalam busana pria Bali dan serupa dengan blangkon dalam busana pria Jawa.
Kebiasaan nebon [pantang memotong rambut bagi suami yang istrinya dalam keadaan hamil] yang terdapat di Bali, dikenal pula dalam tradisi Sasak Lombok. Selama nebon, kegiatan rumah tangga ditangani suami. Kebiasaan ini dipertahankan dengan tujuan demi melahirkan generasi yang berkualitas jasmani dan rohaninya.
Tradisi potong gigi, pertunjukan wayang lelendong [kulit], instrumen gamelan yang sama, tradisi kawin lari dan lain-lain juga beberapa di atara sekian banyak kesamaan budaya antara Bali dan Lombok. Selain itu, akulturasi budaya antara Bali dan Lombok juga terlihat dalam ritual penganut kepercayaan Islam Sasak atau Islam Wetu Telu.
Bahasa
Bahasa daerah yang dituturkan di Pulau Lombok oleh Suku asli Sasak disebut dengan Bahasa Sasak. Bahasa Sasak dapat dikelompokkan ke dalam ragam bahasa yang sama dengan Bahasa Jawa dan Bali. Banyak sekali kosa kata yang cara pelafalan, penggunaan dan maknanya sama dengan kosa kata dalam Bahasa Bali dan Jawa. Ini desebabkan oleh kedekatan geografis dan historis di antara mereka. Bahasa Sasak Bali dan Jawa sama-sama bersumber dari bahasa Kawi dengan aksara Jawa Kuno, Hanacaraka. Aksara Hanacaraka Bali dan Sasak sama-sama berjumlah 18, sementara Hanacaraka Jawa berjumlah 20.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar